Mempertanyakan Kembali Naskah Pidato Walikota Banjarbaru

Pembukaan Pekan Budaya Daerah Kota Banjarbaru yang dilaksanakan di Taman Air Mancur Banjarbaru (12/08/09) meninggalkan kesan muram di kepala saya. Secara garis besar, konsep budaya yang ditawarkan melalui naskah pidato Walikota Banjarbaru yang dibacakan oleh DR Syahriani, Asisten I Tata Praja Setdako Banjarbaru ternyata berbeda dengan pelaksanaan di lapangan. Dalam hal ini selaku pelaksana adalah Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga kota Banjarbaru bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru.

Bagi sebagian orang yang hadir, mungkin tidak begitu penting memerhatikan isi pidato tersebut. Sebenarnya saya juga menganggap tidak terlalu penting, hanya sekadar kewajiban dan basa-basi apalagi umumnya naskah pidato dikerjakan oleh pihak Humas. Artinya bukan buah pikiran si pejabat tersebut.

Baiklah, naskah pidato tentang Pekan Budaya Daerah yang saya dengar memang sudah bagus, berbicara tentang potensi budaya daerah dan nilai-nilai budaya daerah yang mulai tergeser. Lantas apa masalahnya?

Jika Anda hadir dalam acara tersebut, atau kebetulan Anda yang membaca tulisan ini sedang berhadir saat itu, maka silakan cermati kembali tulisan di spanduk yang terpampang di lokasi kegiatan. Di situ tertulis, “MELALUI PERINGATAN HUT Ke-64 RI KITA KOLABORASIKAN SENI BUDAYA SUKU BANGSA DI BANJARBARU”.

Jika Anda belum menemukan kaitan antara Naskah Pidato dan Tulisan di Spanduk tersebut, maka akan saya tunjukkan 1 lembar naskah pidato yang sempat saya jepret langsung di lokasi acara saat usai dibacakan.

Hal substansial yang saya pertanyakan pada Naskah pidato tersebut berada di halaman 3. Isinya adalah,”…lebih memilih Street Dance, Skate Board, Playstation, Membaca Novel Harry Potter, atau musik Punk sebagai hobby interest mereka daripada belajar tarian khas daerahnya…bla…bla.”

Banjarbaru dan Masyarakat yang Plural

Apa yang sudah tertulis di Spanduk (sudah saya tulis di atas), bisa dipahami sebagai upaya mengakui eksistensi masyarakat Banjarbaru yang plural. Artinya, menerima keberagamaman dan kemajemukan yang ada di Banjarbaru, dalam hal ini adalah seni dan budaya dalam artian luas (tertulis di spanduk dengan Suku Bangsa).

Saya pribadi mengamini bahwa kota Banjarbaru adalah merupakan masyarakat yang plural. Hal senada juga pernah disampaikan langsung ketika ngobrol bersama Ir. Noor Syahdi di ruang kerjanya  (meskipun ini bukan undangan pernikahan tapi penting saya menuliskan maaf jika salah menulis nama Anda), saat itu beliau masih menjabat sebagai kepala Dinas Pariwisata & Budaya Banjarbaru sekaligus Ketua Dewan Kesenian Banjarbaru.

Pekan Budaya Daerah yang Seperti Apa?

Saya adalah orang yang lahir dan dibesarkan dari generasi saat ini. Tapi bukan berarti saya meninggalkan apa saja yang sudah pernah menjadi tradisi masa lalu (seni & Budaya). Bagi saya, saat ini dan masa lalu adalah sebuah proses yang harus tetap seimbang, tidak hanya memilih salah satunya saja dan meninggalkan yang lainnya. Itu yang ada dalam pikiran saya agar tetap eksis dari zaman demi zaman.

Demikianpun, saya bukan seorang budayawan yang bisa menulis dengan baik makna budaya daerah sendiri atau budaya orang lain. Tapi saya memahami makna keberagaman yang saya tulis dengan istilah PLURALITAS. Pluralitas sendiri saya pahami layaknnya negara Indonesia dengan keadaan masyarakat yang majemuk. Atau yang lebih jauh lagi adalah pluralisme sebagai ciri hukum Tuhan yang menciptakan manusia yang tidak hanya terdiri dari satu kelompok, suku, warna kulit, dan agama saja.

Lantas bagaimana jika ada orang yang bertanya tentang identitas Banjarbaru itu sendiri? Barangkali Banjarbaru adalah salah satu kota yang sulit dijabarkan identitasnya. Berbeda dengan Martapura, Banjarmasin, Pleihari dan daerah-daerah lain di Kalsel. Alasannya, Banjarbaru itu memiliki masyarakat yang sangat majemuk. Dari kemajemukan tersebut, eksis pula tatanan seni dan budaya yang beragam. Apakah keragaman itu yang sedang ingin dirayakan pada saat Pekan Budaya Daerah Banjarbaru yang rencananya akan berlangsung selama empat hari? Atau berusaha ingin mengkondisikan bahwa Banjarbaru adalah bagian kecil dari luasnya nilai budaya Kalimantan Selatan yang pada akhirnya perayaan Pekan Budaya Daerah tak ubahnya seperti umumnya perayaan daerah lain di Kalsel?

Bicara identitas maka juga akan mencari sesuatu yang unik untuk disebut sebagai identitas. Itu jika ingin mendapati Kota Banjarbaru sebagai yang Banjarbaru, bukan sebagai kota seperti kota-kota lainnya. Keunikan Banjarbaru adalah kota yang selama ini (sejauh pengamatan saya) bisa menerima dan saling berinteraksi satu sama lain yang awalnya berbeda. Konsep saling hormati-menghormati dan Berbhineka Tunggal Ika sudah tumbuh di Banjarbaru sejak lama. Para pecinta musik reggae ada di Banjarbaru, Pecinta Musik Punk ada di Banjarbaru, Pecinta sastra ada di Banjarbaru, Pecinta Motor Gede ada di Banjarbaru, Pecinta Layang-layang ada di Banjarbaru, bahkan kemajemukan beragama pun asoi geboy di Banjarbaru dan lain sebagainya. Selama ini, mereka tetap eksis dan berkembang di kota Banjarbaru. Bukankah itu suatu keunikan yang tidak terjadi disemua daerah?

Melalui konsep Pluralitas di atas, saya pribadi salut ketika melihat jadwal Pelaksanaan Pekan Budaya Banjarbaru yang rencananya akan berlangsung sejak 12 Agustus-18 Agustus 2009 (libur 14-15 Agustus 2009). Setidaknya, panita pelaksana di lapangan lebih memahami dengan baik kondisi Banjarbaru.

Sebagai penutup, saya tidak sedang menyalahkan sesiapun. Sebagai konsep pluralitas itu sendiri, saya tetap menerima naskah pidato walikota tersebut dengan baik. Toh, isinya memang baik. Saya menganggap perbedaan antara naskah pidato dan pelaksanaan di lapangan hanya soal pemaknaan kata ‘Daerah’ saja. Daerah yang mana, daerah yang seperti apa? Dan perbedaan itu sebagai bukti bahwa Kota Banjarbaru masih gagap dalam pemerian identitasnya.

Tags: , , , ,

4 Responses to “Mempertanyakan Kembali Naskah Pidato Walikota Banjarbaru”

  1. nia says:

    jadi yg dimaksudkan untuk berkolaborasi itu seni budaya suku bangsa mana??

  2. anas says:

    kalo ditanya soal identitas banjarbaru, kayaknya sulit dijawab…
    sama hal nya dgn balikpapan..lebih cenderung sbg kota transit..
    tidak punya identitas bahasa asli, kuliner asli yg khas, dll.
    beda dengan banjarmasin yg kuat dgn budaya sungai dan urang banjar, martapura yg identitas nya sbg kota relijius dan kota intan, kandangan yg identik dgn ketupat dan dodol nya..
    atau skala nasional, Padang dgn makanan dan rumah gadangnya, Jogja dgn gudeg, kraton dan budaya jawa nya, dll….
    hal2 semacam ini yg gak dipunyai banjarbaru….yg otentik khas banjarbaru…

    tp banjarbaru tetep menyenangkan bagi saya, kota nya rapi, tidak crowded, bersih, banyak kafe outdoor buat nongkrong, ada public space kayak Murjani dll (meskipun hal2 kayak gini juga di miliki kota2 lain).

  3. yulian says:

    Ya…saya juga agak sulit mencari ciri khas dan budaya di Banjarbaru..

  4. Zian X-Fly says:

    Benar sekali, berdasar pengamatan saya, Banjarbaru memang tidak memiliki khas dalam hal budaya.

Leave a Reply